Pengaruh Masuknya Ajaran Hindu-Budha di Indonesia
1.
Pengaruh Masuknya Ajaran Hindu-Budha di Indonesia
Masuknya pengaruh unsur kebudayaan Hindu-Budha dari india telah mengubah
dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam beberapa aspek kehidupan.
a. Agama
Ketika memasuki zaman sejarah,
masyarakat indonesia menganut kepercayaan animisme. Masyarakat mulai menerima
kepercayaan baru, yaitu agama Hindu-Budha sejak berinteraksi dengan orang-orang
India. Budaya baru tersebut membawa perubahan pada kehidupan keagamaan,
misalnya dalam hal tata cara krama, upacara-upacara pemujaan dan bentuk tempat
peribadatan.
b.
Pemerintahan
Sistem pemerintahan kerajaan
dikenalakan oleh orang-orang India. Dalam sistem ini kelompok-kelompok kecil
masyarakat bersatu dengan kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik
dan terkuat berhak atas tampuk kekuasaan kerajaan. Oleh karena itu lahir
kerajaan-kerajaan seperti kutai, tarumanegara dan sriwijaya.
c.
Arsitektur
Salah satu tradsi megalitikum adalah
punden berudak-undak. Tradisi tersebut berpadu dengan budaya India yang
mengilhami perbuatan bangunan candi. Jika kita memperhatikan candi borobudur,
akan terlihat bahwa bangunannya beberbentuk limas yang berundak-undak. Hal ini
menjadi bukti adanya paduan budaya india-Indonesia.
d. Bahasa
Kerajaan-kerajaan Hindu-Budha di
Indonesia meninggalkan beberapa prasasti besar berhuruf pallawa dan berbahasa
Sanskerta. Dalam perkembangan selanjutnya bahkan hingga saat ini, bahasa
Indonesia memperkaya diri dengan bahasa sanskerta itu. Kalimat atau kata-kata
bahasa Indonesia yang merupakan hasil serapan dari bahasa sanskerta yaitu
Pancasila, Dasa Dharma, Kartika Eka Paksi, Parasamya Purnakarya Nugraha, dsb.
e.
Sastra
Berkembangnya pengaruh India di
Indonesia membawa kemajuan besar dalam bidang sastra. Karya sastra terkenal
yang mereka bawa adalah kitab Ramayan dan Mahabarata. Adnya kitab-kitab itu
memacu para pujangga Indonesia untuk menghasilkan karya sendiri. Karya-karya
sastra yang muncul di Indonesia:
1.
Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa
2.
Sotasoma, karya Mpu Tantular, dan
3.
Negarakertagama, karya Mpu Prapanca
2.SEJARAH LAHIRNYA AGAMA BUDDHA
Agama Buddha lahir dan berkembang pada
abad ke-6 BC. Agama itu diperoleh namanya dari panggilan yang diberikan kepada
pembangunnya yang mula-mula Siddharta Gautama (563-483 BC),yang dipanggilkan
dengan Buddha.
Panggilan itu berasal dari akar kata
Bodhi (hikmat),yang didalam deklensi (tashrif) selanjutnya menjadi buddhi
(nurani),dan selanjutnya menjadi Buddha.Sebab itulah sebutan Buddha pada masa
selanjutnya memperoleh berbagai pengertian sebagai berikut: Yang sadar, Yang
Cemerlang, Dan yang beroleh terang.
Panggilan itu diperoleh Siddharta
Gautama sesudah menjalani sikap hidup penuh kesucian,bertapa,berkalwat
mengembara untuk menemukan kebenaran, dekat tujuh tahun lamanya,dan di bawah
sebuah pohon, iapun beroleh hikmat dan terang hingga pohon itu sampai saat ini
dipanggilkan pohon Hikmat (Tree of Bodhi)
Kitab Suci agama Buddha adalah Tri
Pitaka. Tri itu bermakna tiga, dan pitaka itu bermakna bakul, tapi dimaksudkan
adalah bakul hikmat.hingga Tripitaka itu bermakna Tiga Himpunan Hikmat, yaitu;
Sutta Pitaka, berisikan himpunan ajaran
dan kotbah Buddha Gautama.Bagian terbesar berisi percakapan antara Buddha
dengan muridnya.Didalamnya juga termasuk kitab-kitab tenyang pertekunan (meditasi),dan peribadatan,himpunan kata-kata
hikmat,himpunan sajak-sajak agamawi,kisah berbagai orang suci. Keseluruhan
himpunan ini ditunjukkan bagi kalangan awam dalam agama Buddha.
Vinaya Pitaka, berisikan
Pattimokkha,yakni peraturan tata hidup setiap anggota biara-biara (sangha).
Didalam himpunan itu termasuk Maha Vagga, berisikan sejarah pembangunan
kebiaraan (ordo) dalam agama Buddha beserta hal-hal yang berkaitan dengan
biara. Himpunan Vinaya-pitaka itu ditunjukkan bagi masyarakat Rahib yang
dipanggilkan dengan Bikkhu dan Bikkhuni.
Abidharma-pitaka, yang ditunjukkan bagi
lapisan terpelajar dalam agama Buddha, bermakna : dhamma lanjutan atau dhamma
khusus. Berisikan berbagai himpunan yang mempunyai nilai-nilai tinggi bagi
latihan ingatan,berisikan pembahasan mendalam tentang proses pemikiran dan
proses kesadaran. Paling terkenal dalam himpunan itu ialah milinda-panha
(dialog dengan raja Milinda) dan pula Visuddhi maga (jalan menuju kesucian)
3.Bukti-bukti tentang Proses Interaksi Masyarakat dengan
Tradisi
Hindu-Budha
Penyusunan dan identifikasi fakta-fakta
tentang interaksi dengan tradisi Hindu-Budha dapat diperkuat dengan
berita-berita asing terutama dari China tentang Indonesia.
a.Kalimantan
Di daerah Mura Kaman,Kutaibeberapa prasasti
berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti-prasasti tersebut
dipahatkan pada tiang-tiang batu yang dinamakan yupa. Sekalipun tidak
mencantumkan angka tahun, namun berdasarkan huruf dan bahasanya,diduga berasal
dari tahun 400 M. prasati tersebut dibuat pada masa pemerintahan Raja
Mulawarman.
Salah satu diantara prasasti itu memuat
silsilah Mulawaaaarman. Tugu batu ini didirikan oleh para Brahmana sebagai
peringatan selamatan(kenduri). Uraian sinkat terhadap dua prasasti
itu,mengungkap fakta mengenai keberadaan Kerajaan Kutai di Kalimantan pada abad
ke-5 M. Sekaligus membuktikan bahwa memang telah terjadi interaksi antara
budaya lokal dengan tradisi Hindu-Budha. Agama yang berkembang didaerah itu
adalah Syiwaisme. Hal ini dapat diketahui dari adanya sebutan ansuman yang
berarti Dewa Matahari dalam mitologi Hindu,di Jawa lebih dikenal dengan sebutan
waprakeswara.
Salah satu yang menarik adalah
dijadikannya Aswawarman seagai pendiri dinasti atau wangsakartya, dan bukan
Kudungga.Kudungga tidak dianggap sebagai wangsakarta karena belum beragama
Hindu. Hal ini tercermin dari namankya yang masih menggunakan nama lokal.
b.
Jawa
Peninggalan kepurbakalaan di Jawa
ditenukan dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga memudahkan untuk memudahkan
untuk melakukan identifikasi fakta-fakta tentang proses interaksi masyarakat
dengan tradisi Hindu-Budha. Hubungan antara masyarakat Jawa dengan tradisi
Hindu-Budha berlangsung lama dan dengan intensitas yang sangat tinggi.
Diawali dengan perkembangan di Jawa
Barat,berlanjut dan memuncak di Jawa Timur,untuk selanjutnya ke
Bali.Peninggalan kepurbakalaan ditemukan dalam berbagai bentuk sepserti
prasasti,candi,petirtaan(pemandian),arca,perhiasan,dan sebagainya. Dengan
demikian,upaya untuk mencari fakta guna merekontruksi kondisi kehidupan
masyarakatnya,khususnya tentang interaksinya dengan tradisi Hindu-Budha
,menjadi lebih lengkap. Melalui peninggalan-peninggalan tersebut,kita dapat
mengetahui bahwa pada masa lampau,di Jawa pernah berkembang beberapa institusi
politik berupa kerajaan,misalnya
Tarumanegara,Kalingga,Mataram,Medang,Kahuripan,Kediri,Singasari,Majapahit,dan
sebagainya.
c.Sumatra
berdasarkan berita Cina,diperoleh
keterangan bahwa pada abad ke-7 M di Sumatra terdapat kerajaan-kerajaan yang
bernama To-lang-p'o-hwang(Tulangbawang)Molo-yeu(Melayu),dan
Che-lifo-che(Sriwijaya). Berdasarkan keterangan yang dibawa oleh pendeta budha
bernama I-Tsing yang pada tahun 671 M berangkat dari Kanton menuju India.Ia
singgah di Sriwijaya selama enam bulan untuk belajar bahasa sansekerta.
Kemudian singgah di Melayu selam dua bulan,baru kemudian menuju ke India dan
tinggal disana selama sepuluh tahun.Tahun 685 M ia kembali ke Sriwijaya,dan
tinggal selama empat tahun untuk menerjemahkan berbagai kitab suci Budha,dari
bahasa sansekerta ke dalam bahasa Cina.
d.Bali
Tidak diketahui secara pasti dari
daerah mana tradisi Hindu-Budha masuk ke Bali,tetapi kemungkinan besar berasal
dari jawa.Kemungkinan ini diperkuat dengan ditemukannya Arca Budha berlanggam
Jawa Tengah di Goa Gajah,Bedahulu.Dalam prasasti kubu-kubu (905 M) disebutkan
daerah yang bernama Bantan telah ditaklukkan oleh Mataram pada masa Raja
Balitung.
e.Daerah
Sulawesi
Penemuan patung atau arca budha terbuat
dari perunggu di Sempaga, Sulawesi Selatan. Ini merupakan bukti tertua tentang
adanya hubungan serta pengaruh India di Indonesia. Penemuan arca ini sangat
penting karena memberi petunjuk tentang bagaimana taraf hidup dan budaya bangsa
indonesia ketika itu.
Berdasarkan ciri-ciri ikonografinya
patung budha tersebut bergaya Seni Amarawati,suatu tempat di daerah aliran
Sungai Kitsna, IndiaSelatan Bagian Timur (Daerah Koromandel). Rupa-rupanya arca
ini dibuat di tanah asalnya (Amarawati),kemudian dibawa ke Indonesia. Boleh
jadi arca tersebut merupakan barang dagangan, atau dapat pula sebagai barang
persembahan untuk suatu wihara atau bangunan suci agama Budha.
Sejarah
peninggalan hindu budha
CANDI BUDHA
1.
Candi Borobudur
Ciri-Ciri nya :
Candi Borobudur berbentuk punden berundak,
yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk
bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar
di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Borobudur adalah nama sebuah
candi Buddha yang terletak di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi candi
adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah
barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha
Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.
2Candi
Mendut
Ciri-Ciri nya :
Hiasan yang terdapat pada candi Mendut berupa
hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan
berupa bidadara dan bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Candi Mendut adalah sebuah candi berlatar belakang
agama Buddha. Candi ini terletak di desa Mendut, kecamatan Mungkid, Kabupaten
Magelang, Jawa Tengah, beberapa kilometer dari candi Borobudur.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi, disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama veluvana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
3Candi
Ngawen
Ciri-Ciri nya :
Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.
Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi masih nampak cukup jelas, di antaranya adalah ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara.
Candi Ngawen adalah candi Buddha yang berada
kira-kira 5 km sebelum candi Mendut dari arah Yogyakarta, yaitu di desa Ngawen,
kecamatan Muntilan, Magelang. Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh wangsa
Syailendra pada abad ke-8 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan candi
Ngawen ini kemungkinan besar adalah yang tersebut dalam prasasti Karang Tengah
pada tahun 824 M.
4Candi
Lumbung
Candi Lumbung adalah candi Buddha yang berada
di dalam kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, yaitu di sebelah candi Bubrah.
Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram
Kuno. Candi ini merupakan kumpulan dari satu candi utama (bertema bangunan
candi Buddha).Ciri-cirinya :
Dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup bagus.
Dikelilingi oleh 16 buah candi kecil yang keadaannya masih relatif cukup bagus.
5. Candi Banyunibo
Candi Banyunibo yang berarti air
jatuh-menetes (dalam bahasa Jawa) adalah candi Buddha yang berada tidak jauh
dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari kota Yogyakarta ke
arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman
Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang
merupakan ciri khas agama Buddha.Ciri-cirinya:Keadaan dari candi ini terlihat
masih cukup kokoh dan utuh dengan ukiran relief kala-makara dan bentuk relief
lainnya yang masih nampak sangat jelas. Candi yang mempunyai bagian ruangan
tengah ini pertama kali ditemukan dan diperbaiki kembali pada tahun 1940-an,
dan sekarang berada di tengah wilayah persawahan.
6. Kompleks Percandian Batujaya
Kompleks Percandian Batujaya adalah sebuah
suatu kompleks sisa-sisa percandian Buddha kuna yang terletak di Kecamatan
Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.
Situs ini disebut percandian karena terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar
di beberapa titik.Ciri-cirinya:Dari segi kualitas, candi di situs Batujaya
tidaklah utuh secara umum sebagaimana layaknya sebagian besar bangunan candi.
Bangunan-bangunan candi tersebut ditemukan hanya di bagian kaki atau dasar
bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan.
Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit (juga disebut sebagai unur dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa). Ternyata candi-candi ini tidak memperlihatkan ukuran atau ketinggian bangunan yang sama.
Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit (juga disebut sebagai unur dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa). Ternyata candi-candi ini tidak memperlihatkan ukuran atau ketinggian bangunan yang sama.
7. Candi Muara Takus
Candi Muara Takus adalah sebuah candi Buddha
yang terletak di Riau, Indonesia. Kompleks candi ini tepatnya terletak di desa
Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar atau jaraknya kurang lebih
135 kilometer dari Kota Pekanbaru, Riau. Jarak antara kompleks candi ini dengan
pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai
Kampar Kanan.
Ciri-cirinya:
Kompleks candi ini dikelilingi tembok
berukuran 74 x 74 meter diluar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran
1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir sungai
Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat pula bangunan Candi Tua, Candi
Bungsu dan Mahligai Stupa serta Palangka. Bahan bangunan candi terdiri dari
batu pasir, batu sungai dan batu bata. Menurut sumber tempatan, batu bata untuk
bangunan ini dibuat di desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir
kompleks candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap
sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk. Untuk membawa batu bata ke
tempat candi, dilakukan secara beranting dari tangan ke tangan. Cerita ini
walaupun belum pasti kebenarannya memberikan gambaran bahwa pembangunan candi
itu secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai.
8. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan hanya berupa sebuah stupa,
berlokasi di Kecamatan Singosari, Malang. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi
Singosari. Candi ini Merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan
oleh umat Buddha pada masa itu.
Candi Sumberawan terletak di desa Toyomarto,
Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, +/- 6 Km, di sebelah Barat Laut Candi
Singosari, candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran P. 6,25m L. 6,25m
T. 5,23m dibangun pada ketinggian 650 mDPL, di kaki bukit Gunung Arjuna.
Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah
telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.
Cirri-cirinya:
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.
Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan Padma, sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang.
9. Candi Brahu
Candi Brahu dibangun dengan gaya dan kultur
Buddha, didirikan abad 15 Masehi. Pendapat lain, candi ini berusia jauh lebih
tua ketimbang candi lain di sekitar Trowulan. Menurut buku Bagus Arwana, kata
Brahu berasal dari kata Wanaru atau Warahu. Nama ini didapat dari sebutan
sebuah bangunan suci seperti disebutkan dalam prasasti Alasantan, yang
ditemukan tak jauh dari candi brahu. Dalam prasasti yang ditulis Mpu Sendok
pada tahun 861 Saka atau 9 September 939,
Cirri-cirinya:
Candi Brahu merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.
Candi Brahu merupakan tempat pembakaran (krematorium) jenazah raja-raja Brawijaya. Anehnya dalam penelitian, tak ada satu pakarpun yang berhasil menemukan bekas abu mayat dalam bilik candi. Lebih lebih setelah ada pemugaran candi yang dilakukan pada tahun 1990 hingga 1995.
Candi Sewu adalah candi Buddha yang berada di
dalam kompleks candi Prambanan (hanya beberapa ratus meter dari candi utama
Roro Jonggrang). Candi Sewu (seribu) ini diperkirakan dibangun
pada saat kerajaan Mataram Kuno oleh raja Rakai Panangkaran (746 – 784). Candi
Sewu merupakan komplek candi Buddha terbesar setelah candi Borobudur, sementara
candi Roro Jonggrang merupakan candi bercorak Hindu.
Menurut legenda rakyat setempat, seluruh
candi ini berjumlah 999 dan dibuat oleh seorang tokoh sakti bernama, Bandung
Bondowoso hanya dalam waktu satu malam saja, sebagai prasyarat untuk bisa
memperistri dewi Roro Jonggrang. Namun keinginannya itu gagal karena pada saat
fajar menyingsing, jumlahnya masih kurang satu
CANDI HINDU
Candi Cetho merupakan sebuah candi bercorak
agama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan
ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet
Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk
kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas
Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya mulai
diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh. Lokasi
candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten
Karanganyar, pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut.
Ciri-cirinya:
Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.
Pada keadaannya yang sekarang, Candi Cetho terdiri dari sembilan tingkatan berundak. Sebelum gapura besar berbentuk candi bentar, pengunjung mendapati dua pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman dan di sini terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Cetho.
2. Candi Asu
Candi Asu adalah nama sebuah candi
peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi Pos, kelurahan Sengi,
kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, provinsi Jawa Tengah (kira-kira 10 km di
sebelah timur laut dari candi Ngawen). Di dekatnya juga terdapat 2 buah candi Hindu
lainnya, yaitu candi Pendem dan candi Lumbung (Magelang). Nama candi tersebut
merupakan nama baru yang diberikan oleh masyarakat sekitarnya.
Ciri-cirinya :
Disebut Candi Asu karena didekat candi itu terdapat arca Lembu Nandi, wahana dewa Siwa yang diperkirakan penduduk sebagai arca asu ‘anjing’. Disebut Candi Lumbung karena diduga oleh penduduk setempat dahulu tempat menyimpan padi (candi Lumbung yang lain ada di kompleks Taman Wisata candi Prambanan). Ketiga candi tersebut terletak di pinggir Sungai Pabelan, dilereng barat Gunung Merapi, di daerah bertemunya (tempuran) Sungai Pabelan dan Sungai Tlingsing. Ketiganya menghadap ke barat. Candi Asu berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,94 meter. Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang. Melihat ketiga candi tersebut dapat diperkirakan bahwa candi-candi itu termasuk bangunan kecil. Di dekat Candi Asu telah diketemukan dua buah prasati batu berbentuk tugu (lingga), yaitu prasasti Sri Manggala I ( 874 M ) dan Sri Manggala II ( 874 M ).
Disebut Candi Asu karena didekat candi itu terdapat arca Lembu Nandi, wahana dewa Siwa yang diperkirakan penduduk sebagai arca asu ‘anjing’. Disebut Candi Lumbung karena diduga oleh penduduk setempat dahulu tempat menyimpan padi (candi Lumbung yang lain ada di kompleks Taman Wisata candi Prambanan). Ketiga candi tersebut terletak di pinggir Sungai Pabelan, dilereng barat Gunung Merapi, di daerah bertemunya (tempuran) Sungai Pabelan dan Sungai Tlingsing. Ketiganya menghadap ke barat. Candi Asu berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,94 meter. Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang. Melihat ketiga candi tersebut dapat diperkirakan bahwa candi-candi itu termasuk bangunan kecil. Di dekat Candi Asu telah diketemukan dua buah prasati batu berbentuk tugu (lingga), yaitu prasasti Sri Manggala I ( 874 M ) dan Sri Manggala II ( 874 M ).
3. Candi Gunung Wukir
Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal adalah
candi Hindu yang berada di dusun Canggal, kalurahan Kadiluwih, kecamatan Salam,
Magelang, Jawa Tengah. Candi ini tepatnya berada di atas bukit Gunung Wukir
dari lereng gunung Merapi pada perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Menurut perkiraan, candi ini merupakan candi tertua yang dibangun pada saat
pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada tahun
732 M (654 tahun Saka).
Ciri-cirinya:
Kompleks dari reruntuhan candi ini mempunyai
ukuran 50 m x 50 m terbuat dari jenis batu andesit, dan di sini pada tahun 1879
ditemukan prasasti Canggal yang banyak kita kenal sekarang ini. Selain prasasti
Canggal, dalam candi ini dulu juga ditemukan altar yoni, patung lingga (lambang
dewa Siwa), dan arca lembu betina atau Andini.
4. Candi Prambanan
Berdiri di bawah Candi Hindu terbesar di Asia
Tenggara ini selarik puisi tiba-tiba terlintas di benak. Candi Prambanan yang
dikenal juga sebagai Candi Roro Jonggrang ini menyimpan suatu legenda yang
menjadi bacaan pokok di buku-buku ajaran bagi anak-anak sekolah dasar. Kisah
Bandung Bondowoso dari Kerajaan Pengging yang ingin memperistri dara cantik
bernama Roro Jonggrang. Si putri menolak dengan halus. Ia mempersyaratkan 1000
candi yang dibuat hanya dalam waktu semalam. Bandung yang memiliki kesaktian
serta merta menyetujuinya. Seribu candi itu hampir berhasil dibangun bila akal
licik sang putri tidak ikut campur. Bandung yang kecewa lalu mengutuk Roro
Jonggrang menjadi arca, yang diduga menjadi arca Batari Durga di salah satu
candi.
Candi Gunung Sari adalah salah satu candi
Hindu Siwa yang ada di Jawa. Lokasi candi ini berdekatan dengan Candi Gunung
Wukir tempat ditemukannya Prasasti Canggal.Ciri-cirinya:Candi Gunung Sari
dilihat dari ornamen, bentuk, dan arsitekturnya kemungkinan lebih tua daripada
Candi Gunung Wukir. Di Puncak Gunung Sari kita bisa melihat pemandangan yang
sangat mempesona dan menakjubkan. Candi Gunung Sari terletak di Desa Gulon,
Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Semoga di masa depan
Candi Gunung Sari semakin dikenal oleh banyak orang untuk dapat menemukan
inspirasi dan keindahanny.
6. Arca Gupolo
Arca Gupolo adalah kumpulan dari 7 buah arca
berciri agama Hindu yang terletak di dekat candi Ijo dan candi Barong, di
wilayah kelurahan Sambirejo, kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Gupolo adalah
nama panggilan dari penduduk setempat terhadap patung Agastya yang ditemukan
pada area situs. Walaupun bentuk arca Agastya setinggi 2 meter ini sudah tidak
begitu jelas, namun senjata Trisula sebagai lambang dari dewa Siwa yang
dipegangnya masih kelihatan jelas. Beberapa arca yang lain, kebanyakan adalah
arca dewa Hindu dengan posisi duduk.
Ciri-cirinya:
Di dekat arca Gupolo terdapat mata air jernih berupa sumur yang dipakai oleh penduduk setempat untuk mengambil air, dan meskipun di musim kemarau panjang sumur ini tidak pernah kering. Menurut legenda rakyat setempat, Gupolo adalah nama patih (perdana menteri) dari raja Ratu Boko yang diabadikan sebagai nama candi Ratu Boko (ayah dari dewi Loro Jonggrang dalam legenda candi Prambanan).
Di dekat arca Gupolo terdapat mata air jernih berupa sumur yang dipakai oleh penduduk setempat untuk mengambil air, dan meskipun di musim kemarau panjang sumur ini tidak pernah kering. Menurut legenda rakyat setempat, Gupolo adalah nama patih (perdana menteri) dari raja Ratu Boko yang diabadikan sebagai nama candi Ratu Boko (ayah dari dewi Loro Jonggrang dalam legenda candi Prambanan).
Candi Cangkuang adalah sebuah candi Hindu
yang terdapat di Kampung Pulo, wilayah Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa
Barat. Candi inilah juga yang pertama kali ditemukan di Tatar Sunda serta
merupakan satu-satunya candi Hindu di Tatar Sunda.
Cirri-ciri nya:
Bangunan Candi Cangkuang yang sekarang dapat kita saksikan merupakan hasil pemugaran yang diresmikan pada tahun 1978. Candi ini berdiri pada sebuah lahan persegi empat yang berukuran 4,7 x 4,7 m dengan tinggi 30 cm. Kaki bangunan yang menyokong pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit pasagi ukurannya 4,5 x 4,5 m dengan tinggi 1,37 m. Di sisi timur terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1,5 m dan lébar 1,26 m.
Bangunan Candi Cangkuang yang sekarang dapat kita saksikan merupakan hasil pemugaran yang diresmikan pada tahun 1978. Candi ini berdiri pada sebuah lahan persegi empat yang berukuran 4,7 x 4,7 m dengan tinggi 30 cm. Kaki bangunan yang menyokong pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit pasagi ukurannya 4,5 x 4,5 m dengan tinggi 1,37 m. Di sisi timur terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1,5 m dan lébar 1,26 m.
8. Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo adalah nama sebuah komplek
bangunan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan
Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di lereng Gunung
Ungaran. Di kompleks candi ini terdapat lima buah candi.
Candi ini diketemukan oleh Raffles pada tahun
1804 dan merupakan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad
ke-9 (tahun 927 masehi).
Ciri-cirinya:Candi ini memiliki persamaan
dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian
sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin
(berkisar antara 19-27°C)Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran
ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan
pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang.
Candi Pringapus adalah candi di desa
Pringapus, Ngadirejo, Temanggung 22 Km arah barat laut ibu kota kabupaten
Temanggung. Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Siwa
menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis. Candi tersebut
dibangun pada tahun tahun 772 C atau 850 Masehi menurut prasasti yang ditemukan
di sekitar candi ketika diadakan restorasi pada tahun 1932.Ciri-cirinya:
Candi ini merupakan Replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan Antefiq dan Relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis
Candi ini merupakan Replika Mahameru, nama sebuah gunung tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan Antefiq dan Relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Siwaistis
10. Candi Sukuh
Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi
agama Hindu yang terletak di Kabupaten Karanganyar, eks Karesidenan Surakarta,
Jawa Tengah. Candi ini dikategorikan sebagai candi Hindu karena ditemukannya
obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan kontroversial karena
bentuknya yang kurang lazim dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni
yang melambangkan seksualitas.Cirri-cirinya:
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.
Bangunan candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapatkan dari candi ini sungguh berbeda dengan yang didapatkan dari candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir.
1. Candi Singosari
Candi ini berlokasi di
Kecamatan Singosari,Kabupaten Malang dan terletak pada lembah di antara
Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan penyebutannya pada Kitab
Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman
komplek candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja
Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat(meninggal) pada tahun 1292
akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang.
Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangu
Arsitektur Candi Jago disusun seperti
teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya
tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir.
Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan
keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
3. Candi Sumberawan
Candi Sumberawan
merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Dengan jarak sekitar
6 km dari Candi Singosari, Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari
dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Pemandangan di sekitar candi ini
sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya.
Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.
4. Arca Dwarapala
Arca ini berbentuk
Monster dengan ukuran yang sangat besar. Menurut penjaga situs sejarah ini,
arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat
ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.
7. Prasastri Singosari
Prasasti Singosari,
yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa
Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.
Prasasti ini
ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang
dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan
pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak
benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu
sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.
8. Candi Jawi
Candi ini terletak
di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan
Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat
peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau
penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu
tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya
dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.
9. Candi Kida
Candi Kidal adalah salah
satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk
penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang
memerintah selama 20 tahun (1227 - 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji
Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini
sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.
9 Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit
Majapahit merupakan sebuah kerajaan
yang berpusat di Jawa Timur, Indonesia, yang pernah berdiri dari sekitar tahun
1293 hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya menjadi
kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa
kekuasaan Hayam Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389.Kerajaan
Majapahit adalah kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan
dianggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Tak
heran apabila Majapahit meninggalkan banyak peninggalan Bangunan serta candi
seperti yang berikut ini.
1. Gapura Bajang
Ratu
Bangunan ini diperkirakan dibangun pada
abad ke-14 dan adalah salah satu gapura besar pada zaman keemasan Majapahit.
Menurut catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi /
gapura ini berfungsi sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati
wafatnya Raja Jayanegara yang dalamNegarakertagama disebut "kembali ke
dunia Wisnu" tahun 1250 Saka (sekitar tahun 1328 M).
Namun sebenarnya sebelum wafatnya
Jayanegara candi ini dipergunakan sebagai pintu belakang kerajaan. Dugaan ini
didukung adanya relief "Sri Tanjung" dan sayap gapura yang
melambangkan penglepasan dan sampai sekarang di daerah Trowulan sudah menjadi
suatu kebudayaan jika melayat orang meninggal diharuskan lewat pintu belakang.
2. Candi Jabung
Candi hindu ini terletak di Desa
Jabung, Kecamatan Paiton,Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Struktur bangunan
candi yang hanya dari bata merah ini mampu bertahan ratusan tahun. Menurut
keagamaan, Agama Budha dalam kitab Nagarakertagama Candi Jabung di sebutkan
dengan nama Bajrajinaparamitapura.
Dalam kitab Nagarakertagama candi
Jabung dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada lawatannya keliling Jawa Timur
pada tahun 1359 Masehi. Pada kitabPararaton disebut Sajabung yaitu tempat
pemakaman Bhre Gundal salah seorang keluarga raja. Arsitektur bangunan candi
ini hampir serupa dengan Candi Bahal yang ada di Bahal, Sumatera Utara.
3. Candi Brahu
Nama candi ini, yaitu 'brahu', yang
diduga berasal dari kata wanaru atau warahu. Nama ini didapat dari sebutan
sebuah bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Alasantan. Prasasti tersebut
ditemukan tak jauh dari Candi Brahu.
4. Candi Pari
Merupakan sebuah peninggalan Masa
Klasik Indonesia di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo,
Propinsi Jawa Timur. Lokasi tersebut berada sekitar 2 kilometer ke arah
barat laut pusat semburan lumpur PT Lapindo Brantas saat ini.
Dahulu, di atas gerbang ada batu dengan
angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Merupakan peninggalan zaman Majapahit pada
masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M.
5. Candi Tikus
Candi ini terletak di kompleks
Trowulan, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Candi Tikus yang
semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian
situs dilakukan berdasarkan laporan bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo
Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan
rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai
dengan 1985. Nama ‘Tikus’ hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat
setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan
sarang tikus.
6. Candi Cetho
Merupakan sebuah candi bercorak agama
Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan
ilmiah pertama mengenainya dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet
Kempers juga melakukan penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk
kepentingan rekonstruksi dilakukan pertama kali pada tahun 1928 oleh Dinas
Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya ketika reruntuhannya
mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh dengan Candi Sukuh.
Lokasi candi berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng,Kecamatan Jenawi, Kabupaten
Karanganyar, pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut.
97. Candi Surawana
Merupakan candi Hindu yang
terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, sekitar 25 kilometer
arah timur laut dari Kota Kediri. Candi yang nama sesungguhnya adalah
Wishnubhawanapura ini diperkirakan dibangun pada abad 14 untuk memuliakan Bhre
Wengker, seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan
Kerajaan Majapahit. Raja Wengker ini mangkat pada tahun 1388 M. Dalam
Negarakertagama diceritakan bahwa pada tahun 1361 Raja Hayam Wuruk dari Majapahit
pernah berkunjung bahkan menginap di Candi Surawana. Candi Surawana saat ini
keadaannya sudah tidak utuh. Hanya bagian dasar yang telah direkonstruksi.
9. Gapura Wringin
Lawang
SEJARAH HINDU BUDHA DI INDONESIA
Agama yang pertama masuk di Indonesia
adalah hindu dan budha. Sejarah
Perkembangan Agama Hindu Budha di Indonesia sangat menarik untuk di pelajari. banyak
kebudayaan pada masa tersebut yang sampai sekarang masih ada dan masih sering
kita lihat.
Indonesia juga mencapai puncak kejayaan
masa-masa tersebut, mulai dari kerajaan sriwijaya, kerajaan majapahit, dan
lain-lain. maka jika kita mempelajari kebudayaan hindu-budha mungkin tak cukup
1 tahun. kebudayaan dan sangat menarik, sangat berkesan, dan sangat berbudaya.
Sistem Kepercayaan
Dalam agama Budha terutama dalam system Mahayana menurut system wagniadatu menyebutkan dewa tertinggi adalah Adibudha dan tidak dapat digambarkan karena tidak berbentuk.
Sidharta Gautama
Pendiri agama Budha adalah Sidharta Gautama yaitu seorang anak raja yang mendapat penerangan batin atau enliptenmen. Dia mengantakan bahwa dunia yang kita lihat adalah maya dan manusia adalah tidak berpengetahuan. Kehidupan manusia mengalami sansana atau hidup kembali sebagai manusia atau binatang.
Ganesha
Ganesha adalah anak Siwa dengan Arwati. Dengan digambarkan berkepala gajah dan bertangan empat, pada dahinya juga terdapat mata ketiga. Dan pada setiap tangannya terdapat benda yang berbeda yaitu :
a) Tangan kanan bawah memegang patahan gadingnya
b) Tangan kanan atas memegang tasbih
c) Tangan kiri atas memegang Kapak
d) Tangan kiri bawah memegang mangkuk yang berisi manisan
Dewa Siwa
Pada halaman tengah terdapat lima ekor kerbau, yaitu empat ekor kerbau kecil, dan satu ekor kerbau besar yang merupakan kendaraan dari dewa Siwa yang kesemuaannya terbuat dari patung.
Ganesha adalah anak Siwa dengan Arwati. Dengan digambarkan berkepala gajah dan bertangan empat, pada dahinya juga terdapat mata ketiga. Dan pada setiap tangannya terdapat benda yang berbeda yaitu :
a) Tangan kanan bawah memegang patahan gadingnya
b) Tangan kanan atas memegang tasbih
c) Tangan kiri atas memegang Kapak
d) Tangan kiri bawah memegang mangkuk yang berisi manisan
Dewa Siwa
Pada halaman tengah terdapat lima ekor kerbau, yaitu empat ekor kerbau kecil, dan satu ekor kerbau besar yang merupakan kendaraan dari dewa Siwa yang kesemuaannya terbuat dari patung.
Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan di Jawa Timur
|
No
|
Perbedaan
|
Candi Jawa Tengah
|
Candi Jawa Timur
|
|
1
|
Bentuk
|
Tambun(pendek,
besar)
|
Ramping
|
|
2
|
Atap
|
Stupa/Ratna
|
Kubus
|
|
3
|
Ragam Hias
|
Timbul, Natural
dan alamiah
|
Simbolis
menyerupai wayang kulit
|
|
4
|
Menghadap Arah
|
Timur
|
Barat
|
|
5
|
Letak Candi
Induk
|
Tengah
|
Belakang
|
|
6
|
Pintu
|
Relung(kalama
kara)
|
kepala kala
|
|
7
|
Bahan Dasar
|
Batu Kali/Batu
Andesit
|
Batu Bata
|
Kegunaan & Fungsi Candi
·
Candi Untuk Pemujaan
Candi Hindu yang paling umum dibangun untuk memuja dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu. Contoh candi: candi Prambanan, candi Canggal, candi Sambisari, dan candi Ijo yang menyimpan lingga dan dipersembahkan utamanya untuk Siwa, candi Kalasan dibangun untuk memuliakan Dewi Tara, sedangkan candi Sewu untuk memuja Manjusri.
Candi Hindu yang paling umum dibangun untuk memuja dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu. Contoh candi: candi Prambanan, candi Canggal, candi Sambisari, dan candi Ijo yang menyimpan lingga dan dipersembahkan utamanya untuk Siwa, candi Kalasan dibangun untuk memuliakan Dewi Tara, sedangkan candi Sewu untuk memuja Manjusri.
·
Candi Untuk Pedharmaan
Candi yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal. Fungsi candi ini terkadang sebagai candi pemujaan juga karena arwah raja yang telah meninggal seringkali dianggap bersatu dengan dewa perwujudannya, contoh: candi Belahan tempat Airlangga dicandikan, arca perwujudannya adalah sebagai Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara.
Candi yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal. Fungsi candi ini terkadang sebagai candi pemujaan juga karena arwah raja yang telah meninggal seringkali dianggap bersatu dengan dewa perwujudannya, contoh: candi Belahan tempat Airlangga dicandikan, arca perwujudannya adalah sebagai Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara.
·
Candi Untuk Pertapaan
Didirikan di lereng-lereng gunung tempat bertapa, contoh: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, kelompok candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain candi fungsi sebagai pemujaan, juga merupakan tempat pertapaan sekaligus situs permukiman.
Didirikan di lereng-lereng gunung tempat bertapa, contoh: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, kelompok candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain candi fungsi sebagai pemujaan, juga merupakan tempat pertapaan sekaligus situs permukiman.
·
Candi Untuk Stupa
Didirikan sebagai lambang Budha atau menyimpan relik buddhis, atau sarana ziarah agama Buddha. Secara tradisional stupa digunakan untuk menyimpan relikui buddhis seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau bhiksu Buddha terkemuka, atau keluarga kerajaan penganut Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai sarana ziarah dan ritual, contoh: candi Borobudur, candi Sumberawan, dan candi Muara Takus
Didirikan sebagai lambang Budha atau menyimpan relik buddhis, atau sarana ziarah agama Buddha. Secara tradisional stupa digunakan untuk menyimpan relikui buddhis seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau bhiksu Buddha terkemuka, atau keluarga kerajaan penganut Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai sarana ziarah dan ritual, contoh: candi Borobudur, candi Sumberawan, dan candi Muara Takus
·
Candi Untuk Gerbang
Didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contoh: gerbang di kompleks Ratu Boko, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan candi Plumbangan.
Didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contoh: gerbang di kompleks Ratu Boko, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan candi Plumbangan.
·
Candi Untuk Wihara
Didirikan untuk tempat para biksu atau pendeta tinggal dan bersemadi. Fungsi candi seperti ini adalah sebagai permukiman atau asrama, contoh: candi Sari dan Plaosan
Didirikan untuk tempat para biksu atau pendeta tinggal dan bersemadi. Fungsi candi seperti ini adalah sebagai permukiman atau asrama, contoh: candi Sari dan Plaosan
·
Candi Untuk Petirtaan
Didirikan didekat sumber air atau di tengah kolam dan fungsinya sebagai pemandian, contoh: Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus
Didirikan didekat sumber air atau di tengah kolam dan fungsinya sebagai pemandian, contoh: Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus
Kerajaan Tarumanegara
v
Letak dan Corak serta Tahun Berdirinya
Kerajaan Tarumanegara atau taruma
adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah pulau Jawa bagian barat
pada abad ke-4 sampai abad ke-7. Kerajaan Tarumanegara didirikan oleh raja
Dirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358M, yang kemudian digantikan oleh
putranya, Dharmayawarman (382-395). Kerajaan Tarumanegara bercorak Hindu. Letak
Kerajaan ini dulunya di sungai Cisadane sebelah barat & sungai Citarum
sebelah timur.
v
Raja-Raja Yang Pernah Berkuasa
1.
Jayasingawarman (358-382)
2.
Dharmayawarman (382-395)
3.
Purnawarman (395-434)
4.
Wisnuwarman (434-455)
5.
Indrawarman (455-515)
6.
Candrawarman (515-535)
7.
Suryawarman (535-561)
8.
Kertawarman (561-628)
9.
Sudhawarman (628-639)
10.
Hariwangsawarman (639-640)
11.
Nagajayawarman (640-666)
12.
Linggawarman (666-669)
v
Latar Belakang Raja Purnawarman
Raja Purnawarman yang pernah berkuasa
dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia
memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga(Kali Bekasi) sepanjang
6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan
selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana. Penggalian
saluran air ini sangat besar artinya, karena merupakan pembuatan saluran
irigasi untuk memperlancar pengairan sawah-sawah pertanian rakyat. Hasil
pertanian tersebut memajukan perekonomian.
v
Kehidupan Sosial
Kehidupan gotong royong dalam kehidupan
masyarakat Tarumanegara berkembang dengan baik. Hal ini terlihat dengan adanya
penggalian saluran Gomati. Sebagian masyarakat beragama Hindu dan Buddha,
sedangkan sebagian masyarakat yang lainya masih menganut agama asli.
v
Politik dan Pemerintahan
Seperti Kerajaan Kutai, sumber sejarah
politik dan pemerintahan Kerajaan Tarumanegara kurang jelas. Meskipun demikian,
catatan dari Fa-Hien (sejarawan) mengatakan Tarumanegara mampu menciptakan
stabilitas politik di wilayahnya. Kondisi itu dibuktikan dari laporannya
tentang cukup majunya perekonomian kerajaan tersebut. Kuatnya pemerintahan
dibuktikan oleh informasi prasasti mengenai proyek penggalian saluran Gomati
dan sungai Candrabhaga. Proyek itu membutuhkan tenaga manusia yang cukup besar,
sehingga mungkin terselenggara oleh pemerintahan yang berwibawa, yang
kekuasaanya diakui rakyatnya. Karena merupakan kerajaan, kekuasaan raja
bersifat mutlak. Hal itu tergambar dari pengakuan Raja Purnawarman sebagai
jelmaan Dewa Wisnu.
v
Berakhirnya Kerajaan Tarumanegara
Runtuhnya kerajaan Tarumanegara bermula
dari kepercayaan yang diberikan oleh sang raja kepada pemerintah daerah di
bawah raja, untuk mimimpin wilayahnya sendiri. Lalu, kebiasaan memberikan
warisan wilayah atau daerah kepada putra dan putri mahkota, yang lantas membuat
kerajaan baru diwilayahnya tersebut. Hal itu membuat kekuasaan raja menjadi
lemah dan gampang diserang musuh. Tahun 669 M,
raja Linggawarman yang menjadi raja terakhir, meyerahkan kekuasaan kepada
menantunya yang berasal dari kerajaan Sriwijaya. Lantas, berakhirlah pemerintah dalam nama Tarumanegara
berganti menjadi kerajaan Sunda.
v
Peninggalan
Prasasti : Kerajaan Tarumanegara
meninggalkan tujuh prasasti, yaitu:
1.
Prasasti Ciaruteun :
Prasasti Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun,
dekat muara sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa
dan bahasa Sanskerta yang terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka
dengan metrum Anustubh. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta
sepasang telapak kaki Raja Purnawarman. Gambar telapak kaki pada prasasti
Ciarunteun mempunyai 2 arti yaitu:
· Cap telapak kaki melambangkan
kekuasaan raja atas daerah tersebut (tempat ditemukannya prasasti tersebut).
· Cap telapak kaki melambangkan
kekuasaan dan eksistensi seseorang (biasanya penguasa) sekaligus penghormatan
sebagai dewa. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan
dewa Wisnu maka dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat.
2.
Prasasti Jambu :
Prasasti Jambu atau prasasti Pasir
Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km
sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf
Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja
Mulawarman.
3.
Prasasti Kebon kopi :
Prasasti Kebonkopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang
Bogor . Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah,
yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa
Wisnu.
4.
Prasasti Muara Cianten :
Prasasti Muara Cianten, ditemukan di Bogor, tertulis dalam aksara ikal yang
belum dapat dibaca. Di samping tulisan terdapat lukisan telapak kaki.
5.
Prasasti Pasir awi: Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Leuwilia,
Prasasti Pasir Awi berpahatkan gambar dahan dengan ranting dan dedaunan serta
buah-buahan (bukan aksara) juga berpahatkan gambar sepasang telapak kaki.
6.
Prasasti Cidanghiyang :
Prasasti Cidanghiyang atau prasasti Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi
sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini
baru ditemukan tahun 1947 dan berisi 2 baris kalimat berbentuk puisi dengan
huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi prasasti tersebut mengagungkan
keberanian raja Purnawarman.
7.
Prasasti Tugu : Prasasti
Tuguditemukan di daerah Tugu, kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Prasasti ini
dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang meling kar dan isinya paling panjang dibanding
dengan prasasti Tarumanegara yang lain, sehingga ada beberapa hal yang dapat
diketahui dari prasasti tersebut. Hal-hal yang dapat diketahui dari prasasti
Tugu adalah :
· Prasasti Tugu menyebutkan nama dua
buah sungai yang terkenal di Punjab yaitu sungai Chandrabaga dan Gomati. Dengan
adanya keterangan dua buah sungai tersebut menimbulkan tafsiran dari para
sarjana salah satunya menurut Poerbatjaraka. Sehingga secara Etimologi (ilmu
yang mempelajari tentang istilah) sungai Chandrabaga diartikan sebagai kali
Bekasi.
· Prasasti Tugu juga menyebutkan anasir
penanggalan walaupun tidak lengkap dengan angka tahunnya yang disebutkan adalah
bulan phalguna dan caitra yang diduga sama dengan bulan Februari dan April.
· Prasasti Tugu yang menyebutkan
dilaksanakannya upacara selamatan oleh Brahmana disertai dengan seribu ekor
sapi yang dihadiahkan raja.
Candi : Candi Jiwo adalah salah satu
peninggalan Kerajaan Tarumanegara
Runtuhnya Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Tarumanegara diperkirakan runtuh pada sekitar abad ke-7 Masehi. Hal
ini didasarkan pada fakta bahwa setelah abad ke-7, berita mengenai kerajaan ini
tidak pernah terdengar lagi baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri .
Para ahli berpendapat bahwa runtuhnya Kerajaan Tarumanegara kemungkinan besar
disebabkan karena adanya tekanan dari Kerajaan Sriwijaya yang terus melakukan
ekspansi wilayah.
RUNTUHNYA TARUMANEGARA
Runtuhnya Tarumanegara belum dapat di
ketahui pasti, namun kerajaan Tarumanegara masih mengirimkan utusannya ke cina
sampai tahun 669 M. setelah itu tidak di dapatkan lagi berita. Kemungkinan
Tarumanegara di taklukan Sriwijaya (sepertihalnya terlulis dalam Prasasti
Prasasti Karang berahi). Sehingga dapat di duga runtuhnya Tarumanegara sekitar
+ tahun 669 M oleh serangan Sriwijaya Dan juaga ada yang berpendapat bahwa
runtuhnya kerajaan tarumanegara di sebabkan oleh adanya perbedaan kenyakinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.